Para Calon Cendekiawan yang Ingin Belajar Bodoh

Hidup memang penuh dengan kesalahan – kesalahan, kekhilafan – kekhilafan yang terkadang tidak bisa terelakkan. Segala keburukan mungkin tidak bisa lepas dan habis dari kehidupan pribadi manusia. Namun belajar adalah proses untuk mengetahui tentang apa yang belum diketahui, proses mengubah hal buruk menjadi lebih baik. Mungkin kita sudah belajar ilmu sosial yang luas, ilmu hukum yan banyak, ilmu teknologi yang mendalam dan ilmu – ilmu luar biasa lainnya sehingga kita memang orang – orang terpelajar dan calon – calon cendekiawan.
Terkadang saat itu pula dengan lantang kita berani berkata “akulah AHLI-nya”, “menurut ilmu yang kami pelajari” …. dan lain sebagainya. Namun ada keanehan yang mungkin terjadi, dibalik kita yang sudah mashyur dalam bidang ilmu masing – masing seringkali kita tidak bisa belajar dari hal – hal kecil.
Sering serkali sesuatu hal kecil yang buruk tidak bisa kita ubah menjadi lebih baik, terkadang kita sudah tahu hal tersebut buruk namun sering melakukannya, , terkadang kita sudah tahu hal tersebut buruk namun makin suka melakukannya. Hal ini bukanlah proses belajar. Melainkan proses kemunduran dari kaum – kaum terpelajar menjadi orang – orang bodoh.
Nah… siapa saja orang yang tidak pernah dinasehati? Jawabannya tidak ada… itu artinya tidak ada manusia di dunia ini yang tidak punya kelemahan dan kesalahan. Artinya setiap manusia layak untuk dinasehati dan setiap manusia layak juga untuk menasehati. Ketika kamu dinasehati oleh orang, belum bisa dipastikan orang tersebut lebih baik dari kamu.
Ketika kamu dinasehati oleh orang, bukan berarti dia tidak punya kesalahan. Nasehat adalah proses mengingatkan untuk berperilaku lebih baik, berproses ke arah kehidupan lebih baik.
Mungkin ketika kita dinasehati orang lain? Pada sisi batin kita yang lain berkata: “Kamu sok OKE, sok iya, macem gak punya salah aja” Yah…. Itu wajar. Tapi coba baca ke atas lagi, bahwa manusia itu pasti punya salah dan manusia layak untuk dinasehati dan bukan berarti yang menasehati tidak punya salah.
Sekarang ke topik “Para calon cendekiawan yang ingin belajar bodoh”. Coba kita berpikir, ketika kita mempelajari banyak teori yang benar dan membagikannya kepada orang banyak namun kita mempraktekkan hal yang salah. Maka hal ini adalah kebodohan paling besar yang pernah kita lakukan.
Intinya udah deh, gak usah belajar hal – hal rumit yang membutuhkan banyak waktu, tenaga, biaya, pikiran. Gak usah belajar hal – hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh nalar, jika untuk belajar dari hal – hal kecil saja tidak bisa. Belajar mengetahui BAIK atau BURUK saja tidak bisa. Belajar untuk mengubah hal – hal kecil menjadi lebih baik saja tidak bisa.
Pernah tidak mendengar kalimat ini: “Indonesia Tidak Kekurangan Orang Pintar Hanya Kekurangan Orang Jujur “. Di Indonesia memang begitulah adanya. Kalo orang pintar banyak sekali, tidak sulit untuk mencari, berlomba – lomba untuk selalu menjadi lebih pintar, namun sangat kurangnya orang jujur, bahkan untuk jujur ke hati sendiri aja juga tidak bisa. “Aku tahu itu tidak baik, tapi yah selagi ada kesempatan gas kan aja”.
Maka untuk kita kaum – kaum terpelajar, calon – calon kaum cendekiawan. Berhentilah melakukan tindakan bodoh dan berpura – pura bodoh. Berhentilah untuk tidak jujur kepada diri sendiri. Jika kita duduk di bangku perguruan tinggi, mari menunjukkan diri kita lebih baik dari orang yang tidak pernah mendapatkannya, bukan malah kita lebih bodoh dibandingkan mereka.
Mungkin saja kita menganggap sepele kepada kesalahan – kesalahan kecil, namun akan besar dan jadi kasat mata jika dilihat dari margin yang berbeda. STOP berkata “Akulah AHLI-nya, menurut ilmu yang kami pelajari”, dsb. Jika kepada hal – hal kecil kita belum bisa mengubahnya menjadi lebih baik.

 

*) Tulisan yang tidak jelas artinya apa, namun dibuang sayang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *