UKT Menambah Rintihan Rakyat Kecil

Pada dasarnya Uang Kuliah Tunggal (UKT) berfungsi memberi subsidi silang yang didasarkan pada kondisi ekonomi dan sosial orang tua/wali setiap mahasiswa. Jadi sistem ini mengacu kepada pendapatan orangtua mahasiswa, semakin tinggi pendapatan orangtua maka semakin tinggi pula UKT yang harus dibayar, sebaliknya semakin rendah penghasilan orang tua maka semakin rendah pula biaya UKT yang harus dibayarkan.
Dengan adanya sistem UKT, diharapkan dapat memberikan dampak pemerataan untuk setiap mahasiswa dan membantu mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Jadi sudah seharusnya mahasiswa dengan orang tua yang berprofesi sebagai petani dan rakyat kecil lainnya akan memiliki uang kuliah yang rendah.
Kenyataannya bukan begitu. UKT seakan – akan menjadi salah satu beban paling besar bagi banyak mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Kebanyakan mahasiswa bahkan menganggap bahwa UKT tidak sesuai dengan target. Banyak mahasiswa yang protes dengan mahalnya uang kuliah yang harus dibayarkan setiap semesternya sejak diberlakukannya sistem UKT.
Hal yang lebih memprihatinkan adalah banyak mahasiswa dari kalangan masyarakat menengah ke bawah mendapatkan UKT lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang berasal dari keluarga berpenghasilan tinggi. Dari hal ini, muncul pertanyaan besar yaitu bagaimana penentuan besaran UKT itu dilakukan?
Setelah melakukan jajak pendapat kepada mahasiswa melalui Google Form tentang bagaimana respon dan tingkat kepuasan mahasiswa sejak diberlakukannya sistem UKT. Dari 117 responden yang mengisi jajak pendapat, 67.5 % diantaranya tidak setuju dengan adanya sistem UKT. Kemudian dikembangkan lagi bahwa dari 117 responden yang berasal dari mahasiswa, 63.2% responden menganggap UKT tidak meringankan biaya kuliah.
gpr blog competition
Tentu ini adalah fakta yang penting untuk disikapi. Sejak diberlakukannya UKT pada tahun 2013, maka ini telah menjadi masalah besar di kalangan mahasiswa dan juga rakyat kecil. Betapa tidak, dari sejumlah responden yang memberikan jawaban, hanya 5.1% mahasiswa yang mengaku mahasiswa puas dan 2.6 % yang mengaku sangat puas.
Besaran UKT rata – rata yang harus dibayarkan berdasarkan data yang saya peroleh adalah Rp. 2.766.500,-. Besarnya biaya kuliah ini pastinya menjadi beban mahasiswa yang cukup serius. Padahal kita lihat saja contoh biaya kuliah di USU sebelum adanya UKT yaitu hanya sebesar Rp. 1.000.000,-. Nah, ini sangat jauh sekali kenaikannya.
Menristekdikti mengatakan selain UKT, tidak ada boleh pungutan di kampus (www.edunews.id, 2016). Namun kenyataannya, keadaan sangat bertolak belakang. Banyak mahasiswa mengaku bahwa pungutan biaya itu tetap ada, misalnya untuk almamater, seminar, diktat, laboratorium, pengambilan KRS dan masih banyak lagi. Bahkan pernah mahasiswa mengaku bahwa ketika dia tidak membeli buku dari seorang dosen, maka dia tidak lulus mata kuliah yang diajarkan dosen tersebut. Ini menjadi hal yang miris sekali.
Jika memang tujuan UKT adalah untuk membantu keringanan uang kuliah orang yang kurang mampu. Pada faktanya hal ini tidak sesuai sama sekali, bahkan sangat memberatkan rakyat yang kurang mampu.
Wahai pemerintahku, apa yang kamu lakukan itu kepada kami jahat. Jangan menambah penderitaan kami rakyat kecil. Janganlah menambah rintihan kami. Bagaimana masyarakat kecil dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi jika terus dihantui dengan uang kuliah yang tinggi? Mungkin engkau boleh berkata bahwa ada bantuan biaya pendidikan, seperti Bidik Misi. Namun tahukah engkau, wahai pemerintahku? Bidik Misi hanya untuk sebagian kecil mahasiswa dan banyak juga penentuan penerimanya yang tidak sesuai target (nasional.tempo.co, 2015).
Jika ingin membantu, bantulah kami dengan tulus. Ingat bahwa pada dasarnya engkau duduk di kursi jabatan yang tinggi adalah karena kepercayaan kami bahwa engkau dapat memperjuangkan hak – hak rakyat, maka jangan setelah kamu di kursi empuk, seolah – olah daun telingamu bertambah tebal.
Jika ingin Indonesia maju, fokuslah membangun generasi muda. Jika ingin generasi muda Indonesia berhasil, maka berikan kemudahan dalam menggapai cita – citanya. Mahasiswa, generasi muda atau rakyat kecil bukanlah untuk diperalat untuk mengatur anggaran negara sesukamu.
Melalui artikel ini, saya ingin memohon dengan sangat agar sistem penentuan UKT ditinjau ulang. Mohon berikan kejelasan tentang bagaimana penentuan besaran UKT tersebut. Selama ini, tidak pernah saya mendengar mahasiswa yang bersyukur dan berterimakasih atas adanya UKT, bahkan hanya keluhan dan kekesalan yang terdengar dari kami. Bahkan sampai aksi demo pun tidak engkau dengarkan. Jadi apalagi yang harus engkau dengar? Bagaimana lagi cara kami agar telingamu terusik?
Mohon untuk ke depannya berikan kejelasan tentang penentuan sistem UKT. Sebaiknya untuk membuat kebijakan harus dipikirkan dengan baik segala dampaknya. Dalam penentuan sistem UKT ini sebaiknya dilakukan survei terlebih dahulu kepada mahasiswa. Pendapat mahasiswa sangat dibutuhkan dalam hal ini, sehingga pemerintah tahu jelas apa sebenarnya yang diinginkan mahasiswa.
Semoga artikel ini dapat membuka pandangan kepada pemerintah, betapa kami selalu menanti kebijakan yang memang benar – benar pro rakyat, membantu mahasiswa dan serius dalam membangun generasi muda.
Ronaldi Tumanggor
Mahasiswa Berprestasi Ilmu Komputer 2016
Co-founder ruangmahasiswa.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *